Mediasahabat.com-Makassar-“Pada khutbah Jumat yang disampaikan oleh KH. Drs. Muh. Nurullah, HD di Masjid Nurul Iman, Bantimurung, Kabupaten Maros, jamaah diajak untuk merenungkan kembali makna ketakwaan melalui teladan agung dari dua Nabi mulia: Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Dengan penuh kekhusyukan, Kiai Nurullah menyampaikan bahwa salah satu gelar istimewa yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS adalah “Khalilullah”, yang berarti Kekasih Allah. Gelar mulia ini bukanlah sekadar anugerah tanpa perjuangan, melainkan buah dari keimanan, kepatuhan, dan pengorbanan yang luar biasa.
Beliau menekankan bahwa puncak dari ketakwaan Nabi Ibrahim AS terlihat saat Allah SWT mengujinya dengan perintah untuk menyembelih putra tercinta, Ismail AS. Dalam situasi yang penuh ujian tersebut, Ibrahim tidak ragu sedikit pun untuk melaksanakan perintah Allah, sekalipun itu berarti harus merelakan nyawa anak satu-satunya yang sangat dicintainya.
Demikian pula dengan Nabi Ismail AS, yang dengan penuh ketundukan dan iman, menyatakan kesiapannya untuk menjalankan perintah Allah, bahkan jika itu berarti mengorbankan nyawanya sendiri. Keteladanan ini menunjukkan ketinggian akhlak dan ketakwaan beliau sebagai seorang anak yang sholeh.
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Kisah ini bukan sekadar sejarah, tetapi simbol abadi dari manusia-manusia bertakwa, yang menjadikan Allah sebagai pusat kecintaan, melebihi segalanya – termasuk anak dan keluarga.
Dalam khutbahnya, Kiai Nurullah mengajak seluruh jamaah untuk meneladani semangat pengorbanan dan ketundukan kepada Allah SWT yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Inilah makna sejati dari taqwa, yakni tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah, sekalipun berat bagi logika dan perasaan manusia,” ungkapnya.
Sebagai penutup, beliau mengingatkan pentingnya menjaga keimanan dan mendidik keluarga dalam nilai-nilai ketakwaan, agar tercipta generasi sholeh dan sholehah yang siap mengabdi sepenuhnya kepada Allah.
Khutbah ini menjadi pengingat mendalam bagi umat Islam untuk terus memperkuat keimanan dan meneladani ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai jalan menuju derajat taqwa yang diridhai Allah SWT..(an)


