Mediasahabat.com,Makassar—Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMP Negeri 17 Makassar, Solihin Usmar, angkat bicara terkait video viral sejumlah siswa yang menyampaikan keluhan terhadap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, keluhan tersebut lebih dipicu oleh kesalahpahaman dan kurangnya kesadaran siswa terhadap tujuan utama dari program MBG.
Sudah kami sampaikan berulang kali bahwa MBG itu bukan makanan enak, tapi makanan bergizi. Tapi namanya anak-anak, mereka kadang menyalahartikan,” ujar Solihin saat ditemui awak Media di lingkungan sekolah, Kamis (7/8/2025).
Solihin menegaskan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah melarang siswa membawa ponsel ke sekolah. Namun, pengawasan terhadap ribuan siswa bukan hal yang mudah.,
Kadang kami kecolongan. Siswa iseng merekam, lalu menyebar, viral. Kalau tahu akan jadi viral, mungkin mereka juga tidak unggah video itu,” katanya.
Dalam video yang sempat beredar, sejumlah siswa tampak memprotes isi makanan yang diterima, seperti roti hamburger yang terlihat ‘kosong’. Menanggapi hal ini, Solihin menjelaskan bahwa menu yang disediakan telah melalui koordinasi pihak penyedia, bukan ditentukan oleh pihak sekolah.
Kadang roti hamburger memang tidak langsung kelihatan isinya, tapi ada di bagian lain, tinggal dimasukkan. Mungkin anak-anak anggap lucu, jadi mereka anggap bahan candaan, bukan serius ingin memprotes,” jelasnya.
Solihin mengungkapkan bahwa pihak sekolah sudah rutin memberikan edukasi terkait MBG dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan, nilai-nilai tentang pentingnya makan bergizi telah masuk dalam modul
Di modul kami, ada tujuh kebiasaan anak sehat. Salah satunya ya makan bergizi. Kami sudah tekankan bahwa MBG ini adalah bentuk kepedulian pemerintah, bukan sekadar soal rasa atau selera,” tegasnya.
Menurutnya, selera makan setiap anak memang tidak bisa disamakan. Namun, siswa harus diberi pemahaman bahwa makanan yang diberikan telah dihitung kandungan gizinya dan sesuai standar kelayakan konsumsi.
Bukan seenaknya kita protes. Ini bentuk rasa syukur. Tidak semua sekolah di Kecamatan Manggala dapat MBG. Kami termasuk yang terpilih, itu patut disyukuri,” ujarnya.
Terkait video yang terlanjur viral, pihak sekolah mengaku telah memanggil siswa yang bersangkutan dan orang tuanya untuk diberikan pemahaman. Menurut Solihin, siswa tersebut tidak berniat menyebarkan hal negatif, namun tindakan itu tetap perlu dikoreksi.
Orang tua kami beri edukasi juga. Jangan sampai malah ikut memprotes, padahal program ini tujuannya baik,” katanya.
Distribusi makanan MBG di sekolah pun dilakukan secara terorganisir, dengan melibatkan koordinator, wali kelas, dan guru pendamping.
Begitu makanan datang, ada serah terima, dihitung, lalu disalurkan ke kelas-kelas. Semua terdata dan dipastikan tepat sasaran,” jelas Solihin.
Ia juga menilai bahwa adanya pro dan kontra atas program MBG merupakan hal wajar. Namun, ia menekankan bahwa sekolah akan terus mendampingi siswa agar memahami esensi dari program ini.
“Saya kira kita semua butuh waktu untuk membangun kesadaran kolektif, terutama di kalangan siswa. MBG bukan soal selera, tapi soal nutrisi,” pungkasnya.


