
Mediasahabat.com-“Sejarah berdirinya Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) di Mangkoso, Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, merupakan pengetahuan wajib sejarah pendidikan Islam dan dakwah di Sulawesi Selatan.
Cikal bakal pergerakan ini lahir dari sebuah keresahan spiritual hingga bertransformasi menjadi organisasi terbesar di kawasan Indonesia Timur.
Berikut adalah lini masa dan fase penting perjalanannya yang saya telusuri dibantu literatur teknologi informasi.
1. Berawal dari Masjid yang Sepi Jamaah awal tahun 30-an.
Pada tahun 1932, H. Muhammad Yusuf Andi Dagong diangkat menjadi Arung (Raja) di Swapraja Soppeng Riaja.
Tiga tahun berselang, tepatnya tahun 1935, beliau membangun tiga buah masjid di wilayah kekuasaannya, termasuk Masjid Jami’ Mangkoso.
Namun, masjid-masjid tersebut sepi dan kurang semarak oleh jamaah karena minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat setempat mengenai ajaran Islam.
Mengatasi hal ini, sang Arung mengadakan pertemuan di Saoraja (istana raja) untuk mencari solusi terbaik.
Hasil mufakat memutuskan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam (Angngajian) di Mangkoso.
_____
2. Kehadiran Maha Guru Tanah Bugis, Anregurutta Ambo Dalle (1938)
Arung Soppeng Riaja kemudian mengirim utusan ke Sengkang, Wajo, untuk meminta bantuan kepada ulama besar Anregurutta (AGH) Muhammad As’ad (pimpinan Madrasah Arabiyah Islamiyah/MAI Sengkang) agar bersedia menempatkan salah satu murid terbaiknya di Mangkoso.
Setelah beberapa kali permohonan, AGH Muhammad As’ad akhirnya mengizinkan murid kesayangannya, AGH Abdurrahman Ambo Dalle, untuk berangkat.
21 Desember 1938 (29 Syawal 1357 H): Anregurutta Ambo Dalle resmi membuka pengajian di Masjid Jami’ Mangkoso menggunakan sistem Halaqah atau yang dalam tradisi Bugis dikenal dengan istilah Manggaji Tudang.
11 Januari 1939: Melihat antusiasme santri (ana’ pangaji) yang membeludak, sistem halaqah dikembangkan menjadi sistem klasikal madrasah dengan mendirikan tingkatan Tahdiriyah, Ibtidaiyah, I’dadiyah, dan Tsanawiyah. Lembaga ini diberi nama MAI Mangkoso.
____
3. Kisah Lahirnya Nama Darud Da’wah Wal Irsyad (1947)
Dalam waktu singkat, pesona MAI Mangkoso menyebar luas. Banyak daerah lain di Sulawesi Selatan (seperti Pangkep, Soppeng, Sidrap, Wajo, hingga Majene) meminta dibuka cabang MAI.
Untuk mengoordinasikan wadah pendidikan yang kian menggurita ini, para ulama menilai diperlukan sebuah organisasi formal.
Pada 7 Februari 1947 (16 Rabiul Awal 1366 H), diadakan musyawarah alim ulama dan kadhi se-Sulawesi Selatan di Mangkoso.
Dalam pertemuan tersebut, beberapa nama organisasi diusulkan oleh para tokoh:
Nashrul Haq (usulan AGH Muhammad Abduh Pabbajah), Al-Urwatul Wutsqa (usulan AGH Muhammad Tahir Usman), dan Darud Da’wah wal Irsyad (usulan AGH Abdurrahman Firdaus).
Secara mufakat, nama Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) dipilih.
Maknanya adalah “Rumah Dakwah dan Petunjuk”.
MAI Mangkoso beserta seluruh cabangnya dilebur ke dalam nama baru ini, dengan Gurutta Ambo Dalle terpilih sebagai Ketua Umum pertamanya. Mangkoso pun ditetapkan sebagai pusat (basis utama) pergerakan DDI sebelum kantor pengurus besar sempat bergeser ke Parepare (1950) dan kemudian ke Makassar.
Mangkoso Hari Ini:
Sebagai tempat kelahiran DDI, Pondok Pesantren DDI Mangkoso tumbuh menjadi salah satu kiblat pendidikan Islam tradisional legendaris bermadzhab Syafi’i di Indonesia.
Karena saking banyaknya melahirkan ulama, cendekiawan, serta alumni yang menembus universitas-universitas Timur Tengah, kompleks pesantren di pesisir Soppeng Riaja, Barru ini kerap dijuluki sebagai “Serambi Mesir” di tanah Sulawesi.
_____
Sebagai salah satu pondok pesantren tertua dan paling berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, Pondok Pesantren DDI Mangkoso memiliki sejumlah keunggulan khas yang membuatnya tetap eksis dan berwibawa di tengah gempuran modernisasi.
Berikut adalah beberapa kelebihan utama DDI Mangkoso:
1. Sanad Keilmuan yang Tersambung Jelas (Authentic Scholarly Chain)
Kelebihan paling mendasar dari DDI Mangkoso adalah jalur silsilah keilmuannya yang kuat. Pendirinya, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, berguru langsung pada AGH. Muhammad As’ad (pendiri MAI Sengkang), yang merupakan ulama besar lulusan Masjidil Haram, Mekkah.
Tradisi menjaga kemurnian sanad keilmuan melalui pembacaan kitab-kitab kuning (turats) bermazhab Syafi’i dan berakidah Asy’ariyah ini tetap dijaga ketat hingga hari ini, memberikan jaminan kedalaman ilmu bagi para santrinya.
2. Komitmen pada Moderat-Inklusif (Ahlussunnah wal Jamaah)
Sejak awal berdiri, DDI Mangkoso dikenal sebagai rahim yang melahirkan kader-kader ulama dan intelektual yang berpandangan moderat (tawasuth), toleran (tasamuh), dan seimbang (tawazun). Doktrin dakwah DDI yang santun, fleksibel terhadap kearifan lokal (urf), serta mengutamakan persatuan ummat membuat alumni Mangkoso sangat mudah diterima dan beradaptasi di berbagai lapisan masyarakat, baik di birokrasi, akademisi, maupun struktural keagamaan.
3. Jaringan Alumni yang Luas dan Solid
Sebagai episentrum atau “Ibu” dari seluruh cabang DDI di Indonesia, Mangkoso memiliki basis alumni (Ikatan Alumni DDI Mangkoso/IADIM) yang masif dan tersebar luas, khususnya di Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Kuatnya ikatan emosional antar alumni ini mempermudah para lulusan dalam membangun jejaring karier, berdakwah, maupun melanjutkan studi.
4. Akses Internasional dan Julukan “Serambi Mesir”
DDI Mangkoso memiliki reputasi yang sangat baik di tingkat internasional, khususnya dengan universitas-universitas di Timur Tengah seperti Al-Azhar (Mesir), serta universitas di Sudan, Maroko, dan Yaman.
Standardisasi kurikulum bahasa Arab dan ilmu syariah di Mangkoso yang matang membuat santrinya secara rutin lolos seleksi kuliah di luar negeri setiap tahunnya, hingga pesantren ini kerap dijuluki sebagai “Serambi Mesir-nya Sulawesi”.
5. Penggabungan Kurikulum yang Seimbang
Mangkoso berhasil mengawinkan tiga pilar kurikulum secara harmonis:
Kurikulum Pesantren (DDI): Pendalaman kitab kuning, nahwu, sharaf, balaghah, dan fiqh murni.
Kurikulum Pemerintah (Kemenag/Kemendikbud): Memastikan santri menguasai sains, teknologi, dan ilmu umum sehingga ijazah mereka diakui secara nasional untuk melanjutkan ke perguruan tinggi umum.
Pendidikan Karakter (Tarbiyah): Penekanan pada adab, kemandirian, kemasyarakatan, dan kepemimpinan melalui sistem boarding school yang disiplin namun humanis.
6. Pembagian Kampus Berbasis Gender dan Tingkatan
Untuk menciptakan lingkungan belajar yang fokus, kondusif, dan terjaga, DDI Mangkoso menerapkan lokalisasi kampus secara terpisah:
Kampus I Mangkoso: Pusat kegiatan dan asrama untuk santri tingkat Lanjutan/Tinggi (mahasiswa STAI DDI).
Kampus II Tonrong Nge’: Khusus untuk pembinaan santri putra (tingkat Tsanawiyah dan Aliyah).
Kampus III Bululampang: Khusus untuk pembinaan santri putri (tingkat Tsanawiyah dan Aliyah).
Dengan kombinasi antara keluhuran tradisi, kedalaman ilmu alat (bahasa Arab), dan adaptasi terhadap perkembangan zaman, DDI Mangkoso tidak sekadar menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi telah menjelma menjadi institusi penjaga moral dan benteng peradaban Islam di Sulawesi Selatan.
_____
Pondok Pesantren DDI Mangkoso telah melahirkan jaringan ulama, umara (pemimpin), dan intelektual yang sangat kuat di Indonesia. Pengaruh mereka tidak hanya mencakup wilayah Sulawesi Selatan, tetapi juga mewarnai lanskap keagamaan, pendidikan, dan pemerintahan di tingkat nasional.
Berikut adalah tokoh-tokoh DDI Mangkoso yang paling berpengaruh di Indonesia, baik dari kalangan pendiri, penerus, maupun alumni:
1. Tokoh Sentral & Pendiri
* AGH. Abdurrahman Ambo Dalle
Peran: Pendiri utama DDI Mangkoso dan Ketua Umum pertama Pengurus Besar DDI.
Pengaruh: Beliau adalah maha guru dari mayoritas ulama besar di Indonesia Timur.
Dedikasinya dalam menyebarkan madrasah DDI ke berbagai pelosok (Sulawesi, Kalimantan, hingga Sumatra) menjadikannya salah satu tokoh pendidikan Islam paling berpengaruh pada abad ke-20 di Indonesia.
Kiprahnya dalam mencerdaskan bangsa membuat namanya kerap diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.
** AGH. Amberi Said
Peran: Pimpinan kedua Pondok Pesantren DDI Mangkoso (memimpin sejak tahun 1949 setelah estafet dari Gurutta Ambo Dalle).
Pengaruh: Beliau adalah tokoh kunci yang menjaga stabilitas dan keberlangsungan DDI Mangkoso di masa-masa sulit pasca-kemerdekaan.
Visi besarnya terbukti saat beliau mempersiapkan kaderisasi kepemimpinan jangka panjang untuk kemajuan pesantren.
2. Pimpinan & Ulama Kontemporer
*** AGH. Prof. Dr. H. Muhammad Faried Wajedy, Lc., M.A.
Peran: Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso saat ini (sejak 1985) dan Ketua MUI Kabupaten Barru.
Pengaruh: Putra dari AGH. Amberi Said ini merupakan alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Di bawah kepemimpinannya, DDI Mangkoso bertransformasi menjadi pesantren modern tanpa kehilangan identitas salafnya, mendirikan Ma’had Aly (perguruan tinggi peningkat kompetensi ulama), serta memperluas jaringan pengiriman santri ke Timur Tengah secara masif.
Beliau adalah rujukan utama fatwa dan fikih kontemporer di Sulawesi Selatan.
3. Tokoh Alumni Terkemuka tingkat Nasional
**** AGH. Prof. Dr. (H.C.) Muhammad Sanusi Baco, Lc. (Almarhum)
Peran: Mantan Ketua Umum PB DDI, Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan, dan Ketua MUI Sulsel.
Pengaruh: Beliau merupakan salah satu santri generasi awal murni didikan langsung Gurutta Ambo Dalle di Mangkoso yang kemudian dikirim ke Al-Azhar, Kairo.
Di tingkat nasional, ia dikenal sebagai ulama kharismatik yang sejuk, moderat, dan menjadi jembatan pemersatu berbagai ormas Islam (NU, Muhammadiyah, DDI).
***** AGH. Prof. Dr. H. Sahabuddin (Almarhum)
Peran: Ulama besar, pakar tafsir Al-Qur’an, dan akademisi.
Pengaruh: Salah satu alumni Mangkoso yang berhasil meraih reputasi akademik tertinggi sebagai Guru Besar.
Karya-karya tulis dan pemikirannya di bidang metodologi tafsir menjadi rujukan penting di berbagai UIN/IAIN di seluruh Indonesia.
****** AGH. Prof. Dr. Andi Syamsul Bahri, Lc., M.A.
Peran: Ketua Umum Pengurus Besar (PB) DDI saat ini.
Pengaruh: Alumnus DDI Mangkoso yang memiliki karier akademik internasional cemerlang, termasuk menjadi dosen senior dan dekan pascasarjana di berbagai universitas di Malaysia dan Brunei Darussalam.
Saat ini memimpin roda organisasi pusat DDI untuk memperluas dakwah Islam moderat di kancah nasional dan internasional.
Benang Merah Karakter Tokoh DDI:
Karakteristik utama yang menyatukan seluruh tokoh di atas adalah prinsip “Ilmuwan yang Agamawan, Agamawan yang Ilmuwan”. Baik ketika mereka terjun ke dunia politik, akademisi, bisnis, maupun murni jalur dakwah, nilai kesantunan, moderasi beragama (wasathiyah), dan pengabdian masyarakat khas Mangkoso tetap melekat kuat.
Sumber: Ardi Susanto As



