
Mediasahabat.com-Makassar,— Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 Universitas Almarisah Madani menghadirkan inovasi obat berbahan alam berbasis sistem penghantaran nanoemulsi gel termosensitif in-situ ekstrak Centella asiatica (NE-GTI-ECA).
Inovasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi gangguan kognitif pascastroke atau Post-Stroke Cognitive Impairment (PSCI), yang masih menjadi tantangan dalam penanganan pasien pascastroke.
Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) tahun 2021, terdapat 11,81 juta kasus stroke yang diprediksi meningkat menjadi 21,43 juta kasus pada 2050. Di Indonesia, tercatat 642.943 kasus baru stroke dan 4.918.487 orang hidup dengan kondisi tersebut.
Tingginya prevalensi stroke juga memicu berbagai komplikasi neurologis, salah satunya PSCI. Dalam dokumen penelitian disebutkan prevalensi PSCI di Indonesia mencapai 50–75% dan kondisi tersebut meningkatkan risiko kematian hingga tiga kali lipat dibandingkan penderita tanpa PSCI. Sementara itu, pengobatan PSCI umumnya menggunakan Acetylcholinesterase Inhibitors (AChEI), yang memiliki risiko efek samping.
Manfaat Potensial Centella asiatica
Menjawab persoalan tersebut, Tim PKM-RE 2026 Universitas Almarisah Madani mengembangkan obat berbasis bahan alam dengan memanfaatkan kandungan senyawa asiatikosida dari ekstrak Centella asiatica.
Senyawa tersebut memiliki aktivitas neuroprotektif dan berpotensi meningkatkan fungsi memori dengan efek samping yang lebih minimal melalui sistem NE-GTI-ECA.
Tim yang terdiri dari Vikaoliviana, Arsty Wulandari, Angelita Tema, Fatimah Az-zahra, dan Adhella Rahma Azizah tersebut berada di bawah bimbingan Dr. apt. Radhia Riski, S.Si., M.Si.
Ketua Tim PKM-RE, Vikaoliviana, mengatakan pengembangan inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh tantangan dalam penghantaran senyawa aktif menuju otak akibat adanya sawar darah otak.
“Permasalahan ini mendorong kami untuk mengembangkan sistem penghantaran obat yang dirancang untuk membentuk gel ketika mencapai suhu tubuh, sehingga dapat bertahan lebih lama pada area pemberian, dan mampu meningkatkan penyerapan senyawa aktif ke otak dengan lebih optimal,” jelasnya.
Menunjukkan Hasil Positif
Hasil evaluasi menunjukkan formulasi NE-ECA dan GTI memiliki stabilitas fisik yang baik. Pengujian juga mencakup uji pelepasan in vitro, permeasi ex vivo, serta pengujian keamanan melalui hemolisis dan HET-CAM.
Hasil pengujian tersebut menunjukkan sediaan tidak menimbulkan iritasi.
Sementara itu, Arsty Wulandari, selaku penanggung jawab uji Novel Object Recognition, menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkan berhasil memberikan perbaikan indeks pengenalan pada model tikus dengan stroke iskemik.
Menurutnya, hasil tersebut menunjukkan adanya perbaikan kinerja kognitif dan memberikan harapan bagi pengembangan pilihan terapi yang lebih aman dan efektif bagi pasien PSCI.
Penelitian ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Tim berharap inovasi tersebut dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan terapi berbasis bahan alam yang lebih efektif dan aman untuk membantu mengatasi gangguan kognitif pascastroke di masa mendatang.(**)



