Mediasahabat.com.Makassar
Oleh: KH. Drs. Nurullah, HD
Disampaikan di Masjid Al Ikhlas, Permata Sudiang Raya, Kelurahan Laikang, Kec. Biringkanaya, Kota Makassar
KHUTBAH PERTAMA
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Alhamdulillahi alladzi faradha al-hajja ‘ala man istatha‘a ilaihi sabila.
Asyhadu an laa ilaha illallah, wahdahu laa syarika lahu. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma‘in.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Saat ini kita memasuki musim haji. Saudara-saudara kita mulai diberangkatkan ke Tanah Suci, memenuhi panggilan Allah SWT:
“Wa adz-dzin fin-nasi bil-hajj, ya’tuka rijalan wa ‘ala kulli dhamirin ya’tina min kulli fajjin ‘amiq.”
(Surah Al-Hajj: 27)
“Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Namun, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Sudahkah kita memahami hakekat berhaji?
Bukan sekadar ritual lahiriah, tapi juga sebagai perjalanan batiniah menuju Allah SWT.
Sebagian orang hanya menjadikan ibadah haji sebagai formalitas: cukup berangkat ke Mekkah, thawaf, sa’i, wukuf, dan selesai. Tapi hatinya tetap tertinggal di dunia. Maka, ada pula yang secara fisik belum pernah ke Baitullah, tetapi ruhnya senantiasa berputar di sekitar Ka’bah, hidupnya dipenuhi kesadaran Ilahiyah, jiwanya selalu tertaut dengan Allah SWT.
Sebaliknya, ada pula yang berkali-kali ke Tanah Suci, namun tak pernah sampai ke Masjidil Haram — karena hatinya tak pernah menyembah kecuali dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Al-Jum’atu hajjul fuqara’ wal masakin”
“Hari Jumat itu adalah hajinya orang fakir dan miskin.”
(HR. Al-Baihaqi)
Artinya, siapa yang belum mampu secara materi, tetap bisa berhaji dengan hadirnya hati yang khusyuk dalam ibadah Jumat, dalam dzikir, dalam shalat berjamaah, dan dalam kepasrahan kepada Allah SWT.
KHUTBAH KEDUA
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Marilah kita maknai ibadah haji bukan hanya sebagai perjalanan fisik, tetapi juga sebagai transformasi jiwa. Dalam thawaf, kita diajarkan untuk menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan. Dalam wukuf, kita dilatih untuk merenungi diri, seakan sedang berada di Padang Mahsyar. Dalam ihram, kita melepas atribut dunia dan menyatu dalam kesederhanaan.
Jika hakekat haji ini kita bawa pulang dalam kehidupan sehari-hari, maka sejatinya kita telah berhaji — baik secara fisik maupun ruhani.
Dan bagi kita yang belum mampu berhaji, jangan putus asa. Hadiri shalat Jumat dengan kesungguhan, karena ia adalah miniatur haji setiap pekan. Niatkan hati untuk selalu menuju Allah dalam segala hal.
Marilah kita perbanyak doa agar Allah mudahkan kita semua bisa menunaikan haji yang mabrur, dan menjaga kemabruran itu sepanjang hidup.
“Rabbanā taqabbal minnā, innaka Antas-Samī’ul ‘Alīm.”
“Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”.(**)


