
Mediasahabat.com-Makassar,— Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar kembali menggelar rangkaian Jelajah Sampah 2026 di Kecamatan Mamajang, Sabtu (25/07/2026). Kegiatan ini merupakan titik ketujuh dari pelaksanaan Jelajah Sampah yang akan menyasar 15 kecamatan di Kota Makassar sebagai upaya memperkuat edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar bersama Camat Mamajang, Jelajah Sampah mengusung konsep edukasi dan aksi nyata untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah tangga. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam berbagai aktivitas yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Talkshow Persampahan yang menghadirkan Dewan Lingkungan Akmal Idrus dan Pengelola TPS 3R Karebosi, Fajar Harianto. Keduanya membagikan pengalaman dan praktik baik pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mulai dari pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah hingga optimalisasi peran TPS 3R dalam mengurangi timbulan sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Edukasi kemudian dilanjutkan melalui Kelas Praktik Pengolahan Sampah Rumah Tangga, di mana peserta mempelajari secara langsung cara mengolah sampah organik menjadi produk yang bernilai guna, seperti kompos, maggot, dan eco-enzyme. Melalui praktik tersebut, masyarakat didorong untuk mulai mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA dengan memanfaatkan sampah organik di lingkungan masing-masing.
Sebagai bentuk implementasi dari materi yang telah diberikan, peserta bersama relawan melaksanakan aksi plogging di sejumlah titik di Kecamatan Mamajang. Sampah yang berhasil dikumpulkan kemudian dipilah berdasarkan jenisnya sebagai gambaran kondisi timbulan sampah di ruang publik sekaligus memperkuat pesan bahwa pemilahan merupakan langkah awal dalam pengelolaan sampah.
Dari hasil aksi tersebut, total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 394,06 kilogram, terdiri atas 30,72 kilogram sampah organik, 24,94 kilogram sampah anorganik, dan 338,40 kilogram sampah residu. Dominasi sampah residu tersebut menjadi pengingat bahwa edukasi mengenai pengurangan dan pemilahan sampah dari rumah tangga masih perlu terus diperkuat agar semakin sedikit sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan bahwa Jelajah Sampah merupakan salah satu program berkelanjutan yang dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat melalui pendekatan edukasi yang mudah dipahami dan dapat langsung dipraktikkan.
“Jelajah Sampah bukan hanya tentang memungut sampah, tetapi bagaimana mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Kami ingin masyarakat memahami bahwa pengelolaan sampah dimulai dari rumah, melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah sebelum dibuang. Semakin banyak sampah yang selesai dikelola di tingkat rumah tangga, semakin sedikit beban yang masuk ke TPA,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan Jelajah Sampah yang menjangkau seluruh kecamatan di Kota Makassar diharapkan dapat menciptakan efek berantai di tengah masyarakat. Setiap peserta diharapkan menjadi penggerak yang mengajak keluarga dan lingkungan sekitarnya untuk mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah.
“Program ini kami laksanakan secara berkelanjutan di 15 kecamatan karena perubahan perilaku tidak bisa dibangun dalam satu kegiatan. Edukasi harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat secara langsung. Ketika kesadaran itu tumbuh di setiap rumah tangga, maka cita-cita Makassar sebagai kota yang bersih dan target Makassar Bebas Sampah 2029 akan semakin mudah diwujudkan,” tambahnya.
Melalui Jelajah Sampah 2026, Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan masyarakat dalam membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Kota Makassar. (*)



