
Mediasahabat.com-Makassar,-“Direktur Profetik Institute, Asratillah, menyerukan pentingnya menjaga suasana kondusif dan sehat di lingkungan Universitas Hasanuddin (UNHAS) menjelang tahapan akhir pemilihan rektor oleh Majelis Wali Amanat (MWA). Ia mengingatkan seluruh pihak—baik dosen, mahasiswa, maupun alumni—untuk menjauhi segala bentuk provokasi dan propaganda pseudo-ilmiah yang dapat menimbulkan suasana saling curiga di tubuh universitas.
Asratillah menilai, beredarnya pemberitaan dan survei tidak terverifikasi yang menggambarkan seolah adanya ketegangan antara hasil pilihan Senat Akademik UNHAS dan opini sebagian kecil kelompok di luar forum formal universitas, berpotensi memecah suasana akademik yang selama ini berjalan tenang dan rasional.
Pemilihan rektor adalah forum akademik, bukan arena politik praktis. Karena itu, semua pihak perlu menahan diri dari narasi yang bersifat provokatif, apalagi jika dibungkus dengan klaim ilmiah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Asratillah di Makassar.
Ia juga menyoroti munculnya survei dan opini yang mengklaim adanya dukungan mayoritas dosen non-Senat dan mahasiswa terhadap salah satu calon tanpa metodologi dan data yang jelas. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk propaganda kelabu yang menyesatkan publik dan dapat merusak kepercayaan terhadap lembaga resmi universitas
Kita harus berhati-hati terhadap bentuk komunikasi yang memanipulasi data untuk menggiring persepsi. Itu bukan tradisi akademik, melainkan praktik propaganda. Universitas sebesar UNHAS harus menolak cara-cara seperti itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Asratillah menilai hasil penyaringan Senat Akademik UNHAS pada 3 November 2025, di mana Prof. Jamaluddin Jompa memperoleh 74 suara dan Prof. Budu meraih 18 suara, merupakan ekspresi sah dan rasional dari lembaga akademik tertinggi kampus.
Mayoritas anggota Senat Akademik adalah profesor dan akademisi senior yang memahami kompleksitas tata kelola universitas. Pilihan mereka tidak didasarkan pada sentimen personal, tetapi pada kebutuhan menjaga keberlanjutan dan reputasi lembaga,” tambahnya.
Profetik Institute mencatat bahwa di bawah kepemimpinan Prof. Jamaluddin Jompa, UNHAS mencatat berbagai lompatan prestasi internasional, antara lain menembus peringkat 951–1000 dunia versi Times Higher Education (THE WUR) dan posisi 201 Asia, serta meraih SNI Award kategori Emas selama dua tahun berturut-turut.
Kita harus melindungi capaian-capaian ini dari gangguan narasi destruktif. Pemilihan rektor seharusnya menjadi ruang afirmasi terhadap gagasan terbaik, bukan ajang mencurigai satu sama lain,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Asratillah mengajak seluruh civitas academica UNHAS untuk kembali memusatkan perhatian pada nilai-nilai dasar universitas, yakni keilmuan, etika, dan keberlanjutan. Ia berharap MWA dapat melanjutkan tradisi rasionalitas Senat dengan memilih pemimpin yang mampu menjaga kesinambungan, stabilitas, dan reputasi global UNHAS.
UNHAS telah menunjukkan arah yang benar. Sekarang tugas kita bersama adalah memastikan perjalanan itu tidak terganggu oleh narasi-narasi semu yang menyesatkan,” pungkasnya.(**)



