MediaSahabat.com-“Kota Makassar menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Dengan jumlah penduduk mencapai 1,48 juta jiwa, timbulan sampah mencapai lebih dari 1.100 ton per hari. Mayoritas sampah berasal dari rumah tangga, sebagian besar berupa limbah organik dan anorganik yang masih dapat dimanfaatkan secara ekonomis dan ekologis.
Kelebihan kapasitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa memicu berbagai dampak negatif seperti bau tak sedap, kemacetan armada sampah, hingga peningkatan penyakit seperti ISPA dan diare. Namun, di tengah persoalan ini, muncul inisiatif-inisiatif cerdas dari warga yang mengolah limbah secara mandiri.
Menurut Marhamah Nadir, penggiat pengolahan limbah organik dan dosen Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, solusi berawal dari rumah. “Melalui pendekatan ekonomi sirkular, rumah tangga dapat mengurangi limbah dengan cara sederhana seperti memilah sampah dan membuat komposter,” ujarnya.
Data nasional menunjukkan sekitar 57% sampah di Indonesia adalah sampah organik, seperti sisa makanan dan daun-daunan, yang dapat diubah menjadi kompos dan pupuk cair organik (POC). Di Makassar, sejumlah keluarga telah berhasil mengurangi 5–10 kg sampah per hari dengan sistem komposter, bahkan menghasilkan hingga 1 liter POC per minggu.
Selain berdampak ekologis, pengelolaan sampah mandiri ini juga mendukung kegiatan pertanian urban (urban farming), serta menjadi solusi saat terjadi penumpukan sampah akibat gangguan operasional atau cuaca ekstrem.
Namun, adopsi teknologi ini tak selalu mudah. Beberapa warga mengeluhkan bau dan kesulitan teknis dalam membuat komposter. Karena itu, pendekatan edukatif dan pelatihan kontekstual menjadi kunci keberhasilan. Pemerintah dan lembaga riset diharapkan berperan aktif sebagai fasilitator.
Sementara itu, pengelolaan sampah anorganik seperti plastik dan logam juga tak kalah penting. Bank sampah kini menjadi sarana pemberdayaan ekonomi warga. Di berbagai wilayah Makassar, sistem insentif berbasis sampah terbukti membantu keluarga berpenghasilan rendah menambah penghasilan.
Pendidikan lingkungan juga digalakkan sejak usia dini. Program seperti “Sedekah Sampah” di sekolah dasar mengajarkan anak untuk memilah sampah sejak kecil. Meski terlihat sederhana, kebiasaan ini diyakini dapat membentuk kesadaran ekologis jangka panjang.
“Makassar bisa menjadi pionir kota sirkular jika semua pihak bergerak bersama. Dibutuhkan kolaborasi rumah tangga, pemerintah, komunitas, dan sektor swasta untuk mewujudkan kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tegas Marhamah.
Pengelolaan sampah bukan semata urusan teknologi tinggi, melainkan tanggung jawab sosial yang harus diemban seluruh lapisan masyarakat. Jika dilakukan secara masif, Makassar bisa menapaki jalan menuju Zero Waste City.(an)


