SYARAT DITERIMANYA SHOLAT
Oleh: Drs. KH. Muhammad Nurullah, HD., M.M.Pd
Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya:
“Adakalanya orang yang sholat itu tidak memperoleh apa-apa kecuali rasa letih dan kantuk.”
(HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa tidak setiap sholat otomatis diterima oleh Allah SWT. Ada sholat yang hanya menjadi rutinitas gerakan jasmani, tanpa kehadiran hati dan kekhusyukan batin. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)
Namun, mengapa masih banyak orang yang rajin sholat tetapi tetap berbuat jahat, berbohong, atau zalim? Jawabannya karena sholatnya belum sampai kepada Allah, belum menembus hijab kesadaran spiritual yang membuatnya diterima di sisi-Nya.
Sholat yang diterima adalah sholat yang menghadirkan hati, menundukkan ego, serta menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap gerakan dan bacaan. Sholat yang demikianlah yang mampu menjadi benteng dari perbuatan dosa.
Sebagaimana pesan ulama kharismatik AG. KH. Abdurrahman Ambo Dalle, beliau berkata:
“Jika engkau sholat, jangan jatuhkan takbiratul ihram sebelum sholatmu diterima oleh Allah SWT.”
Maksudnya, sebelum kita mengangkat tangan dan mengucap takbir, pastikan hati sudah siap untuk menghadap Allah dengan penuh keikhlasan, kekhusyukan, dan pengharapan agar ibadah kita benar-benar diterima.
Semoga kita senantiasa memperbaiki kualitas sholat, bukan sekadar kuantitasnya, agar setiap sujud kita menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


