Mediasahabat.com-Makassar-“Dalam dunia sepakbola modern, transformasi besar terjadi tidak hanya dalam aspek permainan, tetapi juga dalam cara kita memandang sepakbola itu sendiri. Sepakbola kini telah menjadi bagian dari industri besar, sehingga mindset para pemain muda —serta para orang tua dan pelatih— juga harus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Hamka, selaku Head Academy CEFILA, menyampaikan bahwa saat ini banyak Sekolah Sepak Bola (SSB) yang awalnya dibentuk dengan visi pembinaan, kini bergeser menjadi layaknya klub yang berorientasi pada kemenangan dan gelar juara. Pergeseran ini tanpa disadari telah mempengaruhi pola pikir anak-anak. Banyak dari mereka kehilangan semangat untuk belajar sepakbola secara benar, karena lebih fokus pada hasil instan daripada proses pembelajaran yang sesungguhnya.

“Ini adalah tantangan besar bagi kita. Kita harus merubah mindset anak-anak kita sejak dini agar target jangka panjang dapat tercapai,” ujar Hamka.
Dalam usia pembinaan yang sangat krusial, yakni 8 hingga 17 tahun, anak-anak perlu diberikan fondasi ilmu yang kuat —bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga pengetahuan taktik, pemahaman permainan, serta mentalitas profesional. Tanpa bekal yang cukup, mereka akan sulit bersaing di tingkat yang lebih tinggi nantinya.
Hamka juga menyoroti fenomena maraknya turnamen-turnamen yang kurang berkualitas. Banyak SSB terjebak dalam euforia kejuaraan sehingga melupakan visi dan misi awal mereka. “SSB itu seharusnya menjadi pondasi awal pembentukan karakter, mentalitas, dan pemahaman sepakbola anak-anak. Bukan semata-mata untuk mengejar trofi,” tegasnya.
Pergeseran fokus dari pembinaan ke kejuaraan inilah yang menurut Hamka menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam mencetak pemain profesional yang siap bersaing di level nasional maupun internasional.
Melalui pernyataan ini, Hamka dan CEFILA mengajak seluruh orang tua, pelatih, serta insan sepakbola usia dini untuk bersama-sama membangun kembali pondasi yang benar. Pembinaan sejati adalah kunci untuk masa depan sepakbola Indonesia yang lebih gemilang.
Semoga sharing ini dapat membuka mindset kita semua, agar kita bisa lebih bijak dalam mendukung perjalanan anak-anak menuju dunia sepakbola profesional.(**)


