
Mediasahabat.com-Makassar,– Popok sekali pakai sangat populer di masyarakat. Penggunaannya yang mudah dan praktis mempermudah orang tua, khususnya ibu, yang sedang membesarkan bayi. Namun, dibalik kepraktisan tersebut, tersimpan persoalan lingkungan yang terus membesar.
Popok modern tersusun dari kombinasi plastik dan material penyerap sintetis yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam. Limbah ini merupakan salah satu jenis sampah rumah tangga yang paling sulit ditangani, memerlukan waktu ratusan tahun untuk terurai. Indonesia menghasilkan sekitar 7,8–9,2 juta ton limbah plastik setiap tahun, sebagian besar belum terkelola baik. Hal ini berpotensi mencemari lingkungan, khususnya sungai dan laut.
Setiap hari, jutaan popok sekali pakai berakhir menjadi limbah. Seorang bayi rata-rata menggunakan 5 hingga 8 popok per hari pada tahun pertama kehidupannya. Pada tahun 2025, diperkirakan terdapat 4,4 – 4,8 juta bayi lahir di Indonesia. Sehingga, ada potensi 22,5 – 36 juta popok bayi setiap hari, atau 8,1 – 13,1 milyar popok sekali pakai setiap tahunnya yang berakhir menjadi limbah.
Isu tersebut menjadi perhatian tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Hasanuddin (Unhas). Mahasiswa lintas disiplin ilmu ini mengembangkan PLASTERA _(Plastic Decomposer Era)_, sebuah pembungkus limbah popok berbasis biokomposit. Inovasi ini memanfaatkan limbah organik berupa kulit singkong dan cangkang telur, serta diperkaya eco-enzyme untuk mendukung proses biodegradasi.
Ketua tim, Andi Aliyah Tenri Awaru, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat, dan menghadirkan solusi terhadap masalah yang hampir tidak disadari publik. Perlu ada antisipasi dalam pengelolaan limbah popok untuk mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan.
“Secara ilmiah, kami memanfaatkan karakteristik beberapa biomaterial. Pati yang diekstraksi dari kulit singkong berfungsi sebagai bahan utama pembentuk bioplastik yang lebih mudah terurai dibandingkan plastik berbasis minyak bumi. Sementara itu, serbuk cangkang telur dimanfaatkan sebagai penguat struktur material sehingga meningkatkan kekuatan mekanis pembungkus. Integrasi eco-enzim diharapkan dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung aktivitas mikroorganisme dalam proses penguraian limbah organik,” kata Aliyah menjelaskan inovasi ini.
Selain aspek lingkungan, PLASTERA juga dirancang untuk menjawab kebutuhan praktis pengguna. Kantong pembungkus dilengkapi perekat agar limbah popok dapat ditutup lebih rapat, membantu mengurangi bau tidak sedap, serta memiliki desain yang ringkas sehingga mudah dibawa saat bepergian.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa inovasi material hanyalah salah satu bagian dari solusi. Pengelolaan limbah popok tetap membutuhkan perubahan perilaku masyarakat, mulai dari pemilahan sampah, pembuangan yang benar, hingga pengembangan sistem pengolahan limbah yang lebih memadai. Tanpa dukungan pengelolaan yang baik, penggunaan material ramah lingkungan belum tentu memberikan dampak maksimal.
Untuk memperluas pemanfaatannya, tim PKM-K Unhas berencana memperkenalkan PLASTERA melalui media sosial, marketplace, bazar, dan berbagai pameran kewirausahaan mahasiswa. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah popok juga akan menjadi bagian dari pengembangan produk.
Dosen pendamping tim, Dr. Ir. Nursinah Amir, S.Pi., M.P., IPM., berharap inovasi tersebut dapat berkembang melampaui Program Kreativitas Mahasiswa. Menurutnya, riset yang berangkat dari pemanfaatan limbah organik memiliki potensi untuk melahirkan teknologi sederhana yang mampu menjawab tantangan pengelolaan sampah sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
“Sebagai pendamping tim, kami mendorong dan memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa Unhas untuk peka dan sensitif terhadap persoalan masyarakat. Tidak banyak yang menyadari bahwa dibalik kepraktisan popok bayi sebagai wujud kasih sayang setiap orang tua, ada potensi masalah yang perlu respon seimbang. Pada tahap inilah sains akan berdampak,” kata Nursinah.
Pengembangan PLASTERA menunjukkan bahwa ada banyak cara mahasiswa menunjukkan gagasan kritisnya. Dengan kepedulian dan kepekaan terhadap ancaman masa depan, mahasiswa dapat berkontribusi nyata. Di tengah meningkatnya volume limbah popok sekali pakai, inovasi biomaterial seperti ini menjadi pengingat bahwa penyelesaian masalah sampah memerlukan kombinasi antara teknologi, edukasi, dan perubahan perilaku masyarakat.
*Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan Unhas:*
1. Andi Aliyah Tenri Awaru (Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan)
2. Fashila Aulia (Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
3. Putri Naila Az-Zahra Yusri (Fakultas Kesehatan)
4. Nabila Zahirah Putri Amri (Fakultas Teknik)
Dosen Pendamping: Dr. Ir. Nursinah Amir, S.Pi., M.P., IPM.(*/fikp/ir)



