
Mediasahabat.com-Bulukumba-“ Pencegahan stunting perlu dimulai sejak sebelum seseorang memasuki fase kehamilan. Masa remaja merupakan salah satu periode penting untuk membangun status gizi dan kesehatan yang baik sebagai bagian dari persiapan menuju kehidupan dewasa dan kesehatan reproduksi.
Perspektif tersebut menjadi dasar pelaksanaan Program Safe Child: Strategi Pencegahan Stunting Lintas Generasi melalui Edukasi Nutrisi, Skrining IMT-Hb, Konseling serta Penguatan Perlindungan Diri pada Remaja Awal yang dilaksanakan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) di SMP Negeri 17 Bulukumba, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan berlangsung di Aula SMP Negeri 17 Bulukumba, Jalan Lantung Dg. Paesa, Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Program melibatkan dosen Fakultas Keperawatan Unhas bersama lima mahasiswa dan diikuti 67 siswa.
Remaja awal dipilih sebagai sasaran karena periode ini berkaitan dengan pertumbuhan fisik yang cepat, perubahan biologis, serta pembentukan kebiasaan hidup yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan pada tahap kehidupan berikutnya. Melalui pendekatan promotif dan preventif, program Safe Child menggabungkan edukasi gizi, pemeriksaan kesehatan, konseling, serta penguatan kemampuan perlindungan diri.
Materi edukasi mencakup gizi seimbang, pencegahan stunting lintas generasi, anemia pada remaja perempuan, kesehatan reproduksi, konseling kesehatan remaja, dan perlindungan diri dari kekerasan seksual.
Selain edukasi, tim melakukan skrining Indeks Massa Tubuh (IMT) dan hemoglobin (Hb). Pemeriksaan tersebut membantu memberikan gambaran awal mengenai kondisi gizi dan risiko anemia pada siswa. Hasil skrining dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan edukasi dan konseling yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Anemia, khususnya pada remaja perempuan, mendapat perhatian dalam program karena kebutuhan zat besi meningkat selama masa pertumbuhan dan menstruasi. Pemahaman mengenai gizi, pola makan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala diperlukan untuk mendukung kondisi kesehatan remaja hingga memasuki usia reproduktif.
Program Safe Child juga memasukkan aspek perlindungan diri sebagai bagian dari kesehatan remaja. Siswa memperoleh pengetahuan untuk mengenali situasi yang berisiko, memahami batasan diri, menjaga keselamatan, serta mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai situasi.
Kepala SMP Negeri 17 Bulukumba, Dr. Kasmawati Zainuddin, S.Pd., M.Pd., membuka kegiatan secara resmi. Ia menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Program Safe Child yang memberikan edukasi mengenai gizi, kesehatan reproduksi, dan perlindungan diri kepada siswa.
Ia berharap kerja sama antara Universitas Hasanuddin dan SMP Negeri 17 Bulukumba dapat berlanjut melalui berbagai kegiatan edukatif yang mendukung kesehatan dan pendidikan peserta didik.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini berkaitan dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs). Edukasi dan pencegahan stunting mendukung SDGs 2 (Zero Hunger), promosi kesehatan dan pencegahan anemia berkaitan dengan, SDGs 3 (Good Health and Well-Being), sedangkan penguatan literasi kesehatan di lingkungan sekolah mendukung SDGs 4 (Quality Education).
Tim Pengabdian Unhas berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pemilihan makanan bergizi, perhatian terhadap kondisi kesehatan, hingga kemampuan mengenali dan menghindari situasi yang berisiko.
Melalui Program Safe Child, tim pengabdian Unhas mengembangkan pendekatan pencegahan stunting yang dimulai dari fase remaja dengan menggabungkan aspek gizi, kesehatan fisik, kesehatan reproduksi, konseling, dan perlindungan diri. Pendekatan tersebut melibatkan akademisi, mahasiswa, sekolah, tenaga kesehatan, dan peserta didik dalam membangun kesadaran kesehatan sejak dini.



