
Mediasahabat.com-Makassar,-“KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, bukan sosok kiai yang tumbuh dan menghabiskan seluruh perjalanan hidupnya di lingkungan pesantren. Sebelum dipercaya menduduki posisi puncak di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Kikin lebih dahulu menjalani perjalanan panjang di dunia pelayaran, korporasi, bisnis, hingga media.
Lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958, Gus Kikin memiliki hubungan keluarga yang sangat dekat dengan pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan bagian dari keluarga besar Tebuireng.
Meski memiliki latar belakang keluarga pesantren, perjalanan pendidikannya justru membawanya ke dunia pelayaran. Ia menempuh pendidikan pelayaran di Jakarta dan kemudian bekerja di PT Djakarta Lloyd, perusahaan pelayaran milik negara.
Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada dunia yang penuh dengan disiplin, prosedur, navigasi, pengelolaan risiko dan pengambilan keputusan. Bekal tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap organisasi dan kepemimpinan.
Menjelajah Dunia Bisnis
Setelah meninggalkan dunia BUMN, Gus Kikin kemudian terjun ke dunia usaha. Ia mengelola berbagai bisnis yang bersentuhan dengan sektor pelayaran, transportasi, konstruksi, teknologi informasi, media hingga energi.
Namanya juga dikenal memiliki keterkaitan dengan PT Energi Mineral Langgeng, perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas di Madura.
Pengalaman di dunia usaha membuat Gus Kikin tidak asing dengan persoalan investasi, regulasi, perizinan, pengelolaan sumber daya dan hubungan antara pemerintah dengan dunia usaha.
Ia juga pernah bersentuhan dengan industri media melalui BBS TV di Surabaya. Latar belakang pendidikannya di bidang Ilmu Komunikasi menjadi bekal tersendiri dalam memahami komunikasi publik.
Pengalaman lintas sektor inilah yang membuat sosok Gus Kikin memiliki perspektif berbeda ketika kemudian kembali aktif di lingkungan pesantren dan organisasi keagamaan.
Kembali ke Tebuireng
Perjalanan panjang di luar pesantren akhirnya membawa Gus Kikin kembali ke Tebuireng. Setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat pada 2020, Gus Kikin dipercaya menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng.
Di tangan pengelolaan modern, pesantren tidak hanya membutuhkan kharisma kepemimpinan, tetapi juga manajemen yang kuat. Pesantren besar memiliki ribuan santri, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, aset wakaf, unit usaha, pegawai, jaringan alumni serta sistem keuangan yang membutuhkan tata kelola profesional.
Pengalaman Gus Kikin di dunia korporasi menjadi bekal penting dalam mengelola kompleksitas tersebut.
Namun, garis keturunan dari KH Hasyim Asy’ari saja tentu tidak cukup untuk memimpin organisasi sebesar NU. Gus Kikin membangun legitimasi melalui perjalanan organisasinya, termasuk kiprahnya di PWNU Jawa Timur hingga kemudian dipercaya memimpin organisasi tersebut.
Saat memimpin PWNU Jawa Timur, ia memperkenalkan konsep “Kabinet Pelangi”, sebuah pendekatan kepengurusan yang berupaya mengakomodasi keberagaman daerah, generasi dan kelompok.
Kiai yang Memahami Kemandirian Ekonomi
Salah satu perhatian Gus Kikin adalah persoalan ekonomi warga NU.
Dengan jumlah warga yang sangat besar, NU tidak hanya memiliki kekuatan sosial dan politik, tetapi juga potensi ekonomi yang luar biasa. Di dalamnya terdapat pesantren, koperasi, UMKM, tenaga kerja, produsen, konsumen, aset dan jaringan distribusi.
Kekuatan tersebut dinilai dapat menjadi fondasi bagi kemandirian ekonomi warga NU.
Perspektif ini menjadi menarik karena Gus Kikin tidak hanya melihat NU dari sisi keagamaan dan sosial, tetapi juga sebagai sebuah ekosistem besar yang membutuhkan penguatan ekonomi.
Kemandirian ekonomi pada akhirnya menjadi bagian penting dari kemandirian organisasi. Semakin kuat basis ekonomi masyarakat dan organisasi, semakin besar pula ruang untuk menentukan sikap secara mandiri.
Hubungan dengan Prabowo
Hubungan Gus Kikin dengan Presiden Prabowo Subianto juga menjadi bagian dari perjalanan politiknya yang menarik perhatian.
Prabowo beberapa kali berkunjung ke Tebuireng. Kedekatan tersebut sempat dibaca sebagai bentuk dukungan politik menjelang Pemilu 2024.
Namun, Gus Kikin menegaskan bahwa secara kelembagaan Tebuireng tidak terlibat dalam politik praktis.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kedekatan personal dengan tokoh politik tidak otomatis berarti organisasi pesantren berada di bawah kepentingan politik tertentu.
Kini, setelah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, perjalanan panjang Gus Kikin dari pesantren, pelayaran, dunia usaha hingga kembali ke Tebuireng menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan organisasi Islam terbesar di Indonesia.
NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus menjawab tuntutan zaman. Di titik inilah pengalaman Gus Kikin di dunia pesantren dan profesional akan diuji: bagaimana menjaga akar tradisi NU sembari membangun organisasi yang semakin modern, mandiri dan kuat secara ekonomi.(**)



