Mediasahabat.com-Makassar-“Di tengah laju pesat era digitalisasi, kehidupan masyarakat modern semakin lekat dengan teknologi. Aktivitas fisik pun perlahan tergantikan oleh berbagai bentuk hiburan digital, mulai dari permainan virtual, media sosial, hingga kecanduan pada layar gawai. Namun di balik kemajuan teknologi ini, muncul sebuah kesadaran baru akan pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan lokal—salah satunya melalui *kebangkitan olahraga tradisional dan Kreasi Budaya* oleh KORMI KOTA MAKASSAR.
Olahraga tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang tidak hanya mengandung unsur gerak fisik, tetapi juga memuat nilai kebersamaan, sportivitas, dan identitas lokal yang kaya akan makna. Di setiap daerah di Indonesia, kita mengenal berbagai permainan rakyat seperti *Dende, cangke, egrang, tarik tambang, bakiak, patok lele, bentengan, hingga gasing*. Aktivitas ini bukan hanya permainan, tetapi menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarindividu dan membangun karakter kebangsaan.
Kini, di era digital, kebangkitan olahraga tradisional menjadi tantangan sekaligus peluang. Tantangan muncul karena generasi muda lebih akrab dengan permainan digital daripada permainan fisik. Namun peluang pun terbuka lebar—dengan inovasi, kolaborasi, dan pendekatan kreatif, olahraga tradisional bisa dikemas ulang agar menarik bagi generasi milenial dan Gen-Z. Misalnya melalui festival budaya, lomba-lomba tematik di sekolah, konten media sosial yang edukatif dan menghibur, hingga integrasi olahraga tradisional dalam kurikulum pendidikan.
Kehadiran KORMI KOTA MAKASSAR (Komite Olahraga Masyarakat Indonesia) yang dikomandoi oleh Andi Ryan Adrianto sebagai Ketua Umum turut menjadi garda depan dalam mendorong olahraga tradisional kembali hidup di tengah masyarakat Kota Makassar. Melalui pembinaan, pelatihan, dan event berskala daerah maupun nasional, olahraga tradisional kembali menemukan tempatnya di hati masyarakat.
Kebangkitan ini bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap budaya individualistis, serta ajakan untuk kembali ke akar budaya bangsa—sehat jasmani, kuat mental, dan kaya akan nilai gotong royong.
Oleh karena itu, mari bersama kita dorong gerakan “ digitalisasi berbasis budaya ”, di mana teknologi justru dimanfaatkan untuk memperkenalkan dan melestarikan olahraga tradisional. Dari kampung ke kota, dari sekolah ke komunitas, dari lapangan ke media sosial—semangat olahraga tradisional harus terus menyala, sebagai identitas, kebanggaan, dan kekuatan bangsa.
~ OTKB ~


