Mediasahabat.com-Singapura ,-“ Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mendapat sambutan meriah saat memenuhi undangan National University of Singapore (NUS) untuk membawakan kuliah pakar di salah satu kampus terbaik dunia. NUS menempati peringkat ke-8 dunia dan peringkat 1 di Asia dalam QS World University Rankings 2026, menjadikan forum ini sebagai panggung akademik bergengsi tingkat global.
Kehadiran Taruna Ikrar di NUS menjadi representasi transformasi besar BPOM RI yang kini telah mencapai status WHO Listed Authority (WLA) pada Desember 2025. Status ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator negara maju dan menjadi pengakuan internasional atas kredibilitas sistem pengawasan obat dan makanan Indonesia.
Dalam kuliah pakarnya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif yang tidak bisa dilepaskan dari dedikasi seluruh insan BPOM.
“Capaian ini bukan tentang saya, tetapi tentang kerja keras dan ketulusan seluruh keluarga besar BPOM. Ini adalah bukti bahwa ketika kita bekerja dengan integritas dan niat mengabdi, hasilnya akan diakui dunia,” ujar Taruna Ikrar dengan nada penuh refleksi.
Ia menambahkan, keberhasilan meraih WLA menjadi fondasi untuk mempercepat transformasi sistem pengawasan melalui pendekatan modern berbasis teknologi dan kolaborasi global. Di hadapan sivitas akademika NUS, Taruna Ikrar juga memperkenalkan konsep strategis ABG (Academic, Business, Government) sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Menurutnya, kekuatan masa depan Indonesia terletak pada integrasi riset akademik, kekuatan industri, dan arah kebijakan pemerintah dalam satu orkestrasi yang solid.
Transformasi BPOM, lanjut Taruna, juga ditopang oleh dua strategi utama.
Pertama, digitalisasi pengawasan, melalui penerapan sistem berbasis teknologi untuk meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas layanan publik.
Kedua, penerapan reliance mechanism, yaitu percepatan proses registrasi obat inovatif dengan mengacu pada hasil evaluasi otoritas regulator internasional yang kredibel, sehingga akses masyarakat terhadap produk kesehatan dapat dipercepat tanpa mengurangi standar keamanan dan mutu.
“Pendekatan reliance adalah keniscayaan di era global. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dan saling pengakuan antar regulator adalah kunci untuk menghadirkan akses kesehatan yang lebih cepat dan lebih luas bagi masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Taruna Ikrar menyoroti bahwa sektor yang berada dalam pengawasan BPOM mulai dari obat, vaksin, pangan olahan, kosmetik hingga suplemen kesehatan—memiliki nilai ekonomi strategis yang mencapai sekitar Rp6.000 triliun. Angka ini menegaskan bahwa BPOM bukan hanya lembaga pengawas, tetapi juga pilar penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan capaian WLA dan strategi transformasi yang komprehensif, Indonesia kini memiliki peluang besar untuk memperluas ekspor produk farmasi dan makanan, meningkatkan kepercayaan global, serta menarik investasi di sektor kesehatan.
Kehadiran Taruna Ikrar di NUS didampingi staf khusus kepala bpom dr Wachyudi Muchsin sekaligus menjadi simbol bahwa Indonesia semakin diperhitungkan dalam percaturan global bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai mitra strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebijakan kesehatan dunia. Dari kampus kelas dunia ini, satu pesan kuat digaungkan: Indonesia siap melangkah lebih jauh dengan ilmu, kolaborasi, dan kepemimpinan yang diakui dunia.


