Mediasahabat.com-Demak,-“Kepedulian terhadap kelestarian adat istiadat Jawa di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi mendorong sejumlah tokoh dari berbagai daerah membentuk sebuah wadah kebersamaan bernama Paguyuban Spiritual Jawi.
Paguyuban tersebut lahir dari hasil musyawarah masyarakat gabungan dari sejumlah daerah di Jawa Tengah yang sepakat untuk bersama-sama menjaga, melestarikan, dan mewariskan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal Jawa kepada generasi penerus.
Paguyuban Spiritual Jawi didirikan oleh Puji Suroso atau yang akrab disapa Mbah Roso, beralamat di Desa Jleper RT 02 RW 04, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada 21 Desember 2025, bersama 11 rekan seperjuangannya.

Mereka adalah Mbah Adian Munip dari Troso, Pecangaan, Jepara; Mbah Ady Cahyono dari Desa Pulai, Kecamatan Mayong, Jepara; Mbah Adi Spratiwo dari Demak Kota; Mbah Cicik Piji dari Ndawe, Kudus; Mbah H. Ahmad Shofwan dari Teluk Wetan, Jepara; Mbah Sudaryono dari Menjobo, Kudus; Mbah Brungut dari Kriyan, Kaliwamatan, Jepara; Mbah Mualimin dari Seklenting, Kecamatan Wedung, Demak; Mbah Tomy dari Genuk, Semarang; Mbah Komari dari Tuban; serta Mbah Imam Supandi dari Malang.
Pertemuan perdana Paguyuban Spiritual Jawi dilaksanakan di kediaman Mbah Roso pada 17 Maret 2026 dan dihadiri oleh 27 anggota.
Antusiasme masyarakat terhadap paguyuban ini terus meningkat. Pada pertemuan kedua yang digelar pada 10 Mei 2026 di kawasan Degega/Rawa Mijen, jumlah peserta yang hadir mencapai 265 anggota dari berbagai daerah.

Selanjutnya, paguyuban akan menggelar pertemuan ketiga pada 16 Juni 2026 di kediaman Mbah Roso, Desa Jleper RT 02 RW 04, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak. Kegiatan tersebut diperkirakan dihadiri sekitar 750 anggota.
Dari jumlah tersebut, tercatat 398 anggota tergabung dalam grup WhatsApp, sementara sekitar 280 anggota lainnya berada di luar grup komunikasi tersebut.
Ketua Paguyuban Spiritual Jawi, Mbah Roso, mengatakan bahwa tujuan utama dibentuknya paguyuban ini adalah untuk menjaga agar adat dan tradisi Jawa tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Kami ingin bersama-sama menjaga adat istiadat Jawa agar tetap lestari dan tidak hilang oleh pengaruh globalisasi maupun digitalisasi.

Nilai-nilai luhur peninggalan leluhur harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Selain menjadi sarana silaturahmi, Paguyuban Spiritual Jawi juga menghadirkan kegiatan berupa wejangan, petuah kehidupan, serta ijazah tradisi spiritual Jawa yang diyakini memiliki nilai filosofi dan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Beberapa di antaranya seperti Ajian Kolo Cokro, Ajian Mega Mendung, dan Ajian Jolo Sutro.
Ke depan, paguyuban ini berkomitmen menggelar pertemuan rutin setiap malam Satu Suro di rumah ketua paguyuban di Desa Jleper, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak.
Melalui kebersamaan dalam Paguyuban Spiritual Jawi, para anggotanya berharap adat, budaya, dan kearifan Jawa tetap hidup, lestari, serta menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang di tengah pesatnya perkembangan zaman.


