Mediasahabat.com,-“Kemarau panjang menjadi salah satu kondisi yang mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya dan besarnya ketergantungan kepada Allah SWT. Ketika hujan tidak kunjung turun, air semakin sulit diperoleh dan berbagai aktivitas masyarakat mulai terdampak, Islam mengajarkan umatnya untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa, istighfar dan ibadah.
KH. Muhammad Nurullah, HD., M.Pd., menjelaskan bahwa pada zaman Rasulullah SAW, ketika terjadi kekeringan atau kemarau panjang, salah satu ikhtiar yang diajarkan adalah melaksanakan Salat Istisqa, yakni salat memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Menurutnya, pelaksanaan Salat Istisqa bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi harus diawali dengan persiapan batin dan peningkatan amal ibadah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta memperbanyak amal kebajikan.

“Ketika terjadi kemarau panjang, solusi yang ditawarkan oleh Islam adalah Salat Istisqa. Namun, tentunya perlu persiapan yang matang dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW,” jelasnya.
Ia menyampaikan, sebelum pelaksanaan Salat Istisqa, masyarakat dapat memperbanyak istighfar dan taubat, memohon ampun atas segala kesalahan dan dosa, serta meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.
KH.Muhammad Nurullah juga anjuran melaksanakan puasa sunnah selama tiga hari sebagai bagian dari ikhtiar spiritual sebelum melaksanakan Salat Istisqa dan khutbah.
“Intinya adalah kita kembali kepada Allah SWT. Memperbanyak istighfar, berdoa, berpuasa dan melaksanakan Salat Istisqa sebagai bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah,” tuturnya.
Lebih jauh, KH. Muhammad Nurullah mengajak masyarakat menghadapi kemarau panjang tidak hanya dengan keluhan, tetapi juga dengan memperkuat keimanan dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menggambarkan sebuah sikap optimistis dalam menyambut datangnya hujan. Masyarakat dapat mempersiapkan berbagai kebutuhan, seperti payung, ember dan baskom di depan rumah sebagai simbol kesiapan menyambut turunnya hujan.
Namun, persiapan tersebut hendaknya dimaknai sebagai bentuk ikhtiar dan optimisme, sementara keyakinan tetap ditujukan kepada Allah SWT sebagai Zat yang mengatur turunnya hujan.
Kemarau, lanjutnya, juga menjadi momentum untuk mengevaluasi hubungan manusia dengan lingkungan. Air merupakan nikmat Allah SWT yang harus dijaga dan digunakan secara bijaksana.
Karena itu, selain memperbanyak doa dan ibadah, masyarakat juga perlu menjaga sumber-sumber air, menghemat penggunaan air serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Jangan hanya meminta hujan turun, tetapi setelah hujan turun kita kembali menyia-nyiakan air dan merusak lingkungan. Doa harus berjalan bersama ikhtiar dan perubahan perilaku,” pesan KH. Muhammad Nurullah.
Ia berharap momentum kemarau panjang dapat menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan antarsesama dan menjaga lingkungan.
Dengan doa, istighfar, ibadah dan ikhtiar bersama, masyarakat diharapkan tetap optimistis menghadapi kemarau serta senantiasa memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT.(**)




