
Mediasahabat.com-Makassar, -“Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di kalangan masyarakat Bugis-Makassar tidak hanya menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat warisan budaya dan menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada generasi penerus.
Salah satu tradisi yang kerap menyertai peringatan Maulid adalah Kaddo’ Minynya, makanan tradisional yang memiliki makna simbolik dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.
Dalam catatan sejarah dan cerita tradisi yang berkembang di tengah masyarakat, awal mula Kaddo’ Minynya dikaitkan dengan masa ketika Raja Gowa memeluk agama Islam. Dalam kisah tersebut, sang raja kemudian bertanya kepada seorang syekh mengenai cara menyampaikan dan memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Sang syekh kemudian bertanya mengenai makanan yang menjadi kegemaran masyarakat Bugis-Makassar. Raja pun menjawab, Kaddo’ Minynya.
Dari sinilah kemudian berkembang kisah tentang Kaddo’ Minynya dalam tiga warna, yakni hitam, kuning dan putih, yang masing-masing memiliki makna filosofis.
Kaddo’ Minynya warna hitam dimaknai sebagai simbol hati orang yang belum beriman. Sementara warna kuning dimaknai sebagai gambaran hati orang munafik yang mudah bergantung dan mengikuti siapa yang diikutinya. Sedangkan warna putih menjadi simbol hati orang bertakwa, yang bersih dan suci.
Dalam tradisi tersebut, keberadaan ayam di dalam Kaddo’ Minynya warna kuning dan putih juga memiliki simbol tersendiri. Ayam atau manu’ dalam bahasa Bugis dikaitkan secara simbolik dengan kata Arab “amanu”, yang bermakna beriman.
Pesan yang terkandung di dalam tradisi ini bukan sekadar tentang makanan, tetapi bagaimana budaya lokal menjadi media untuk menyampaikan pesan moral, keimanan dan ketakwaan.
Karena itu, pelaksanaan Maulid dengan Kaddo’ Minynya dapat dipandang sebagai bentuk kekayaan budaya Bugis-Makassar yang memadukan tradisi, kebersamaan dan nilai-nilai keislaman.
Tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa budaya lokal dapat terus hidup apabila diwariskan kepada generasi muda dengan memahami makna dan nilai yang terkandung di balik setiap simbolnya.
Wallahu a’lam bisshawab.
Catatan redaksi: kisah asal-usul Kaddo’ Minynya di atas sebaiknya diposisikan sebagai cerita/tradisi yang berkembang dalam masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi secara akademis.
Oleh Drs. KH Muh. Nurullah. HD. M. Pd
(**)



