
Mediasahabat.com-Makassar, -“Jika hari ini publik Makassar melihat Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, yang karib disapa Appi, mulai melemah diremehkan di Partai Golkar, lalu kemudian muncul anggapan bahwa ia hanyalah “politisi biasa” karena “dipaksa” kalah oleh sistem dalam pencalonan Ketua DPD I Golkar Sulsel, maka publik sedang melewatkan narasi yang lebih dalam dari lanskap politik dan psikologi sosial Sulsel, khususnya Makassar.
Appi adalah simbol daya tahan psikologis politik yang ekstrem di Makassar. Ia terbiasa membalikkan narasi: dari “kader yang terdepak” menjadi “martir politik”.
Munafri telah melewati dua kali kekalahan dalam politik Pilkada. Pertama, tragedi kotak kosong pada 2018. Kedua, kekalahan pada 2020. Alih-alih tenggelam, hengkang ke Jakarta, atau menjadi “pahit” terhadap sistem, Appi justru bertahan di Makassar.
Ia mengambil alih posisi Ketua DPD II Golkar Makassar, merawat basis akar rumput selama beberapa tahun, hingga akhirnya memenangkan Pilwali 2024 dan dilantik pada Februari 2025.
Di kota yang keras seperti Makassar, kemampuan untuk bangkit dari titik nadir sosial-politik semacam itu menunjukkan bahwa Appi bukan sekadar politisi instan yang bertumpu pada modal keluarga.
Ia memenangkan kursi Wali Kota Makassar sekaligus mengangkat kembali Golkar yang sempat terpuruk di Makassar, dengan tambahan satu kursi di DPRD Makassar.
Kini Appi telah menjadi Wali Kota Makassar dengan karakter yang berbeda dari para pendahulunya. Hampir dua tahun memimpin, ia telah membangun persona sebagai pemimpin yang lebih fungsional-strategis ketimbang birokrat feodal yang haus fasilitas.
Makassar secara historis sering dipimpin tokoh berlatar belakang birokrat murni, arsitek, atau teknokrat dengan gaya komunikasi yang meledak-ledak. Appi membawa warna berbeda.
Latar belakangnya sebagai mantan penyiar radio di masa muda, yang kemudian melesat memimpin berbagai korporasi besar di sektor otomotif, properti, dan jasa keuangan, membuat pendekatannya lebih dekat dengan manajemen modern.
Gaya komunikasinya cenderung tenang dan terstruktur, tetapi fokus pada eksekusi berbasis target, seperti mengelola sebuah perusahaan.
Hal itu terlihat dari prioritasnya pada pembenahan riil yang langsung menyentuh kenyamanan kota: penataan juru parkir liar, penataan pedagang kaki lima, disiplin lalu lintas, hingga persoalan persampahan di Makassar.
Intinya, Munafri bukan pejabat atau politisi seperti yang selama ini kita saksikan. Ia juga bukan representasi tipikal politisi kelahiran 1950-an atau 1960-an.
Appi datang dengan gaya dan pembeda yang khas. Dan yang wajib kita atau publik ingat, Appi adalah seorang pemenang.
Bukan hanya kursi Wali Kota Makassar yang pernah dimenangkannya. Dalam sejarah PSM sebagai klub terbesar di tanah air, ia juga pernah membawa klub itu meraih dua gelar juara, Piala Presiden dan Liga Indonesia.
Appi hari ini, tidak bisa dinafikkan, telah menjadi bagian dari romantisme Makassar.
Lalu kemudian muncul upaya untuk mereduksinya. Dan jika proses itu dimulai dari Golkar, saya kira ini adalah kekeliruan besar Golkar. Bahkan bisa menjadi kesalahan yang kelak tercatat dalam sejarah politik Golkar di Sulawesi Selatan.
Sebab, jika Appi pada akhirnya benar-benar mengambil langkah radikal untuk keluar dari Golkar, peta politik Sulawesi Selatan, khususnya Makassar akan mengalami pergeseran sistemik.
Bagi saya, hengkangnya Appi dari Golkar karena merasa “teraniaya” oleh DPP dan perpanjangan tangannya di Sulsel tidak serta-merta berarti karier politiknya merosot.
Sebagai wali kota aktif dari kota terbesar di Indonesia Timur, Appi adalah highly marketable asset—komoditas politik dengan nilai yang sangat tinggi.
Ada beberapa partai yang secara logis bisa menjadi pelabuhan barunya.
Partai Demokrat, misalnya, secara terang-terangan telah membuka diri. Partai ini memiliki magnet besar sebagai simbol politik di Makassar.
Ada pula Partai Gerindra yang saat ini sedang berkuasa. Tetapi di sini Appi akan berhadapan dengan Andi Iwan Aras, sesama alumni SMA 2 Makassar, yang tentu memiliki garis dan jalan politiknya sendiri. Keduanya merupakan bagian dari generasi emas politik Sulsel. RMS, Andi Iwan Aras, Appi, Andi Ina, Rudianto Lallo, Andi Rahmatika Dewi, Syaharuddin Alrif adalah generasi politik di Sulsel.
Namun, bagi saya, pilihan yang paling meyakinkan dan menjanjikan adalah NasDem.
*Mesin politik yang tangguh*
NasDem adalah pemenang Pileg di Sulsel dan Makassar. Penggabungan kekuatan Appi dan NasDem dapat menciptakan “super power” lokal yang sulit dikalahkan sekaligus sulit dibantah.
Hubungan antara klan di balik Appi, JK, Aksa Mahmud dengan klan Surya Paloh dan klan RMS, saya kira, juga tidak akan menjadi persoalan besar bagi Appi untuk bergabung di Partai NasDem. Mengingat pula karibnya Rudianto Lallo dan Syahar dengan Appi.
Partai biru-navi ini pun memiliki riwayat menempatkan kader Golkar sebagai ketua DPW, kemudian menjadi pemenang di Makassar dan Sulawesi Selatan.
Karena itu, jangan buru-buru menganggap keluar dari Golkar sebagai akhir perjalanan politik Munafri Arifuddin. Justru sebaliknya.
Keluar dari Golkar bisa menjadi momentum kebebasan politik bagi Appi.
Selama ini, bayang-bayang klan besar dan faksionalisme Golkar, sering kali membatasi ruang gerak Appi. Menjadi “bebas”, atau berpindah ke partai yang memberikannya karpet merah akan membuat daya dobrak politik Appi jauh lebih lincah yang akan membuat lawan-lawan politiknya di masa depan, mungkin justru akan menganggap dan mengakui Appi jauh lebih berbahaya. (*)



